Langsung ke konten utama

Beratnya Menjadi Muhammadiyah dan Tantangan Menghidupkan Ruh Al-Ma’un di Amal Usaha


✍🏻  Penulis: Khilmi Arif, Anggota MPID PCM Dau

Menjadi anggota Muhammadiyah itu memang berat. Berat bukan karena rapat yang panjang atau urusan kalender hijriah yang kadang bikin kita lebaran “beda sendiri”, tetapi karena ada beban sejarah dan ideologi yang melekat kuat: Teologi Al-Ma’un. Sejak awal, Kiai Ahmad Dahlan tidak mendidik muridnya hanya untuk pandai membaca ayat, tetapi memaksa mereka turun ke jalan, mencari fakir miskin, memberi makan orang lapar, dan menghadirkan Islam dalam tindakan nyata (Sukma Jaya, 2026).

📖 Tulisan Sukma Jaya yang dimuat di laman Progresmu.id  (06/02/2026) itu menarik diperbincangkan, bisa jadi hal tersebut memang terjadi di banyak daerah dan cabang Muhammadiyah di Indonesia. Bukan hanya menyindir tapi langsung to the point dalam mengingatkan warga Muhammadiyah untuk introspeksi diri. Oleh karenanya, ketika hari ini ada warga Muhammadiyah, termasuk yang aktif di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), yang kering empati dan pelit kepedulian sosial, hal tersebut sejatinya adalah anomali. Muhammadiyah tanpa Al-Ma’un bukan sekadar pincang, tapi kehilangan jiwa.

Namun realitas tidak bisa disederhanakan. Fenomena melemahnya gairah bermuhammadiyah, khususnya di lingkungan AUM seperti perguruan tinggi, SMA, dan SMP, SD dan Rumah Sakit serta AUM lainnya itu tidak lahir dari ruang kosong. Ada faktor internal dan eksternal yang saling bertaut. Dari sisi internal, terjadi pergeseran orientasi. Bagi sebagian orang, Muhammadiyah berhenti sebagai identitas administratif. AUM dipandang sekadar tempat kerja profesional, bukan ruang pengabdian ideologis. Guru, dosen, dan tenaga kependidikan serta pegawai hanya datang, bekerja, pulang selesai. Nilai persyarikatan tidak menetes dalam keseharian karena tidak pernah benar-benar dihidupi. Selain itu, AUM yang semakin besar dan kompleks sering terjebak pada rutinitas birokratis. Target akreditasi, laporan, administrasi, dan kompetisi lembaga menyedot energi besar. Tanpa disadari, semangat kerelawanan dan keikhlasan yang dulu menjadi ciri khas Muhammadiyah pelan-pelan menipis. Amal usaha maju secara fisik, tetapi ruh gerakan justru melemah.

Persoalan keteladanan juga tidak bisa diabaikan. Dalam ekosistem AUM, pimpinan adalah etalase nilai. Ketika pimpinan tampil lebih sebagai manajer dingin ketimbang figur teladan Al-Ma’un, pesan ideologis menjadi kehilangan daya hidup. Nilai kepedulian sulit tumbuh jika tidak tampak dalam laku pimpinan sehari-hari.

Dari sisi eksternal, perubahan sosial turut mempengaruhi. Gaya hidup urban, tekanan ekonomi, dan logika kapitalisme membuat banyak orang, termasuk warga Muhammadiyah semakin individualistis. Kerja dipahami sebatas relasi upah dan kewajiban. Ditambah lagi, filantropi modern yang serba digital sering mereduksi kepedulian menjadi sekadar transfer, tanpa perjumpaan manusiawi. Padahal Al-Ma’un menuntut keberpihakan, bukan hanya kedermawanan jarak jauh.

Di titik inilah pimpinan AUM memegang peran sangat strategis. Pertanyaannya: bagaimana menghidupkan kembali gairah bermuhammadiyah di kalangan pegawai AUM tanpa jatuh pada indoktrinasi atau pemaksaan?

Pertama, pimpinan AUM perlu meluruskan cara pandang: AUM bukan sekadar tempat kerja, tetapi ladang dakwah dan pengabdian. Ini bukan berarti menafikan profesionalisme. Justru profesionalisme harus diberi makna ideologis. Pegawai perlu disadarkan dengan bahasa yang manusiawi bahwa kerja mereka adalah bagian dari misi pencerahan umat. Ketika kerja memiliki makna, loyalitas akan tumbuh lebih dalam.

Kedua, ideologisasi harus dilakukan secara kontekstual. Pengajian dan pembinaan kemuhammadiyahan tidak boleh berhenti pada hafalan sejarah atau istilah formal. Materi perlu dikaitkan langsung dengan realitas kerja guru, dosen, dan staf. Bahasa harus sederhana, diskusinya hidup, dan temanya relevan dengan problem keseharian. Tujuannya bukan mencetak kader struktural semata, tetapi menumbuhkan rasa memiliki.

Ketiga, pimpinan AUM harus tampil sebagai teladan, bukan hanya administrator. Pegawai sangat peka membaca sikap. Pimpinan yang hadir di pengajian, peduli pada persoalan pegawai, hidup sederhana, dan terlibat langsung dalam kegiatan sosial akan menularkan semangat Al-Ma’un secara alami. Di lingkungan AUM, keteladanan jauh lebih efektif daripada seribu instruksi.

Keempat, kesejahteraan dan keadilan internal tidak boleh diabaikan. Sulit berharap gairah ideologis tumbuh jika pegawai merasa diperlakukan tidak adil. Transparansi gaji, penghargaan atas kinerja, dan kejelasan jenjang karier adalah bagian dari praktik Al-Ma’un itu sendiri. Kepedulian sosial harus dimulai dari dalam.

Kelima, libatkan pegawai AUM dalam aksi sosial nyata. Jangan biarkan Al-Ma’un hanya hidup di ruang kelas atau mimbar pengajian. Program pengabdian masyarakat, layanan pendidikan untuk dhuafa, atau respon kebencanaan yang melibatkan langsung guru dan dosen akan menghidupkan kembali ruh persyarikatan. Perjumpaan dengan realitas umat adalah guru ideologi terbaik.

Keenam, penting membedakan antara pegawai AUM dan kader Muhammadiyah tanpa mempertentangkannya. Tidak semua pegawai harus menjadi aktivis persyarikatan. Namun setiap pegawai perlu memahami dan menghormati nilai dasar Muhammadiyah. Pendekatan bertahap, inklusif, dan tidak menghakimi justru akan memperluas penerimaan.

Terakhir, bangun rasa bangga menjadi bagian dari Muhammadiyah. Banyak pegawai tidak bergairah bukan karena menolak nilai, tetapi karena tidak pernah merasa dihargai sebagai bagian dari gerakan besar. Narasi, apresiasi, dan pengakuan atas kontribusi mereka sekecil apa pun akan menumbuhkan kebanggaan kolektif.

Menjadi Muhammadiyah memang berat. Berat karena harus peduli, harus berbagi, dan harus berpihak. Tetapi justru di situlah kemuliaannya. Amal Usaha Muhammadiyah akan benar-benar menjadi “amal” jika dihidupi dengan Al-Ma’un, bukan sekadar dikelola sebagai usaha. Jika suatu hari AUM terasa ringan karena kehilangan beban ideologisnya, mungkin saat itu yang perlu kita khawatirkan bukan capeknya, melainkan hilangnya ruh perjuangan itu sendiri.


Komentar