Langsung ke konten utama

Muhammadiyah: Antara Kartu Anggota dan Dompet yang "Sariawan"

 



Muhammadiyah: Antara Kartu Anggota dan Dompet yang "Sariawan"
Sukma Jaya

Menjadi anggota Muhammadiyah itu berat. Benar, berat. Bukan cuma karena harus terbiasa dengan rapat yang panjang atau urusan kalender hijriyah yang bikin lebaran kita kadang beda sendiri, tapi karena ada satu beban sejarah yang menempel di dahi kita: Teologi Al-Ma’un. Kiai Ahmad Dahlan dulu tidak cuma menyuruh muridnya baca surat Al-Ma’un sampai hafal, tapi sampai pegel karena harus mencari orang miskin buat dikasih makan. Jadi, kalau hari ini ada warga Muhammadiyah yang pelitnya minta ampun, ini sebenarnya sebuah anomali besar. Ibarat beli bakso tapi gak mau pake kuah; ada yang kurang, hambar, dan bikin seret.

Pelit: Penyakit "Alergi Sosial"

Gerakan "tangan di atas" adalah sinonim dengan Muhammadiyah. Dari rumah sakit sampai panti asuhan, semuanya dibangun pakai modal "iuran" dan "infak". Kalau ada warga yang kalau dengar kotak infak lewat langsung pura-pura khusyuk zikir atau mendadak benerin kopyahnya, mungkin dia perlu dicek: ini beneran kader atau cuma numpang nama di papan nisan nanti? Apalagi kalau orang tersebut hidupnya "menopang" di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Cari nafkah di kantor Muhammadiyah, sekolah Muhammadiyah, tapi kalau urusan berbagi malah "ngiritnya" luar biasa. Ini namanya Paradoks Al-Ma’un. Masa’ kita bangga jadi bagian dari organisasi yang membantu jutaan orang, tapi dompet kita sendiri dikunci ganda pakai gembok besi kalau lihat tetangga laper? 

Bukan Sekadar "Pasukan Salat"

Ingat, Muhammadiyah itu bukan sekadar perkumpulan orang yang rajin salat fardu tepat waktu. Itu mah dasar. Tapi, Muhammadiyah adalah perkumpulan orang yang memastikan bahwa setelah salam, mereka tengok kanan-kiri bukan cuma buat liat jamaah lain, tapi liat ada nggak tetangga yang dapurnya nggak ngebul. Kalau salat kita rajin tapi kikir kita permanen, mungkin kita bukan pengikut Kiai Dahlan, tapi cuma pengikut "Formalitas Organisasi". Kiai Dahlan dulu sampai melelang perabotan rumahnya buat gaji guru. Nah, kita? Mau keluarin seribu-dua ribu buat infak Jumat saja nunggunya sampai dapet kembalian parkir.

Kesimpulan

Jadi, kalau Kita merasa sebagai warga Muhammadiyah tapi masih merasa "sakit gigi" tiap kali mau sedekah, hati-hati. Jangan-jangan kartu anggota kita perlu dicek masa berlakunya. Muhammadiyah itu gerakan aksi. Kalau cuma mau pinter debat tanpa mau berbagi, mending jadi komentator bola saja, jangan jadi kader Sang Surya. Karena matahari itu tugasnya memberi cahaya, bukan menyimpan sinarnya buat diri sendiri.

Komentar