Menjadi
anggota Muhammadiyah itu berat. Benar, berat. Bukan cuma karena harus terbiasa
dengan rapat yang panjang atau urusan kalender hijriyah yang bikin lebaran kita kadang beda
sendiri, tapi karena ada satu beban sejarah yang menempel di dahi kita: Teologi
Al-Ma’un. Kiai Ahmad Dahlan dulu tidak cuma menyuruh muridnya baca surat
Al-Ma’un sampai hafal, tapi sampai pegel karena harus mencari orang miskin buat
dikasih makan. Jadi, kalau hari ini ada warga Muhammadiyah yang pelitnya minta
ampun, ini sebenarnya sebuah anomali besar. Ibarat beli bakso tapi gak mau pake
kuah; ada yang kurang, hambar, dan bikin seret.
Pelit:
Penyakit "Alergi Sosial"
Gerakan "tangan di atas" adalah sinonim dengan Muhammadiyah. Dari rumah sakit sampai
panti asuhan, semuanya dibangun pakai modal "iuran" dan
"infak". Kalau ada warga yang kalau dengar kotak infak lewat langsung
pura-pura khusyuk zikir atau mendadak benerin kopyahnya, mungkin dia perlu
dicek: ini beneran kader atau cuma numpang nama di papan nisan nanti? Apalagi
kalau orang tersebut hidupnya "menopang" di Amal Usaha Muhammadiyah
(AUM). Cari nafkah di kantor Muhammadiyah, sekolah Muhammadiyah, tapi kalau
urusan berbagi malah "ngiritnya" luar biasa. Ini namanya Paradoks
Al-Ma’un. Masa’ kita bangga jadi bagian dari organisasi yang membantu
jutaan orang, tapi dompet kita sendiri dikunci ganda pakai gembok besi kalau
lihat tetangga laper?
Bukan
Sekadar "Pasukan Salat"
Ingat, Muhammadiyah itu bukan sekadar
perkumpulan orang yang rajin salat fardu tepat waktu. Itu mah dasar. Tapi,
Muhammadiyah adalah perkumpulan orang yang memastikan bahwa setelah salam,
mereka tengok kanan-kiri bukan cuma buat liat jamaah lain, tapi liat ada nggak
tetangga yang dapurnya nggak ngebul. Kalau salat kita rajin tapi kikir kita
permanen, mungkin kita bukan pengikut Kiai Dahlan, tapi cuma pengikut
"Formalitas Organisasi". Kiai Dahlan dulu sampai melelang perabotan
rumahnya buat gaji guru. Nah, kita? Mau keluarin seribu-dua ribu buat infak
Jumat saja nunggunya sampai dapet kembalian parkir.
Kesimpulan
Jadi,
kalau Kita merasa sebagai warga Muhammadiyah tapi masih merasa "sakit
gigi" tiap kali mau sedekah, hati-hati. Jangan-jangan kartu anggota kita
perlu dicek masa berlakunya. Muhammadiyah itu gerakan aksi.
Kalau cuma mau pinter debat tanpa mau berbagi, mending jadi komentator bola
saja, jangan jadi kader Sang Surya. Karena matahari itu tugasnya memberi
cahaya, bukan menyimpan sinarnya buat diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar