Langsung ke konten utama

Postingan

Menjelang Satu Abad NU: Mengapa Muhammadiyah Perlu Belajar "Ikramul Ulama"?

  Menjelang Satu Abad NU: Mengapa Muhammadiyah Perlu Belajar "Ikramul Ulama"? Oleh: Sukma Jaya Momentum Harlah Nahdlatul Ulama (NU) yang memasuki usia satu abad bukan sekadar perayaan angka bagi kaum Nahdliyin. Bagi Muhammadiyah, ini adalah cermin besar untuk merefleksikan kembali bagaimana sebuah gerakan menjaga "ruh" dan "manusianya". Di tengah keunggulan Muhammadiyah mengelola ribuan amal usaha secara modern, ada satu ruang sunyi yang perlu diisi: tradisi ikramul ulama —memuliakan ulama. Karisma vs Sistem: Sebuah Ironi Muhammadiyah adalah juara dalam membangun sistem. Dengan manajemen yang rapi, organisasi ini mampu mengubah ketergantungan pada sosok menjadi ketergantungan pada institusi. Namun, di balik keberhasilan itu, tersimpan risiko sosiologis yang nyata. Ketika seorang Kyai atau Ustadz Muhammadiyah selesai masa jabatannya (tidak mengorbit) atau wafat, namanya sering kali menguap begitu saja. Ia menjadi "baut" yang diganti dalam ...
Postingan terbaru

KHGT: Langkah Muhammadiyah Menuju "Satu Hari Raya" bagi Dunia

  KHGT: Langkah Muhammadiyah Menuju "Satu Hari Raya" bagi Dunia Sukma Jaya Masyarakat Indonesia tampaknya terbiasa dengan ritual tahunan menunggu hasil Sidang Isbat menjelang Ramadan atau Idulfitri. Setiap tahun, ada ketegangan yang sering muncul antara penganut Rukyat (melihat bulan secara fisik) dan Hisab (perhitungan matematis). Namun, Muhammadiyah melangkah lebih jauh dengan mengadopsi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) mulai tahun 1446 H. Ini bukan hanya masalah pindah metode penanggalan; itu adalah upaya untuk membawa ibadah umat Islam ke peradaban yang lebih terstruktur di seluruh dunia ( terorganisir secara global) . Fiqh Muqaran: Mencari Titik Temu di Antara Perbedaan Dalam kajian Fiqh Muqaran (perbandingan mazhab), perbedaan penentuan awal Ramadan biasanya berakar pada interpretasi teks: Rukyatul Hilal: Bergantung pada teks harfiah untuk "melihat" bulan. Prinsipnya adalah lokalitas (muthlaqul wilayah) dan ta'abbudi (mengikuti contoh langs...

Muhammadiyah: Antara Kartu Anggota dan Dompet yang "Sariawan"

  Muhammadiyah: Antara Kartu Anggota dan Dompet yang "Sariawan" Sukma Jaya Menjadi anggota Muhammadiyah itu berat. Benar, berat. Bukan cuma karena harus terbiasa dengan rapat yang panjang atau urusan kalender hijriyah yang bikin lebaran kita kadang beda sendiri, tapi karena ada satu beban sejarah yang menempel di dahi kita: Teologi Al-Ma’un . Kiai Ahmad Dahlan dulu tidak cuma menyuruh muridnya baca surat Al-Ma’un sampai hafal, tapi sampai pegel karena harus mencari orang miskin buat dikasih makan. Jadi, kalau hari ini ada warga Muhammadiyah yang pelitnya minta ampun, ini sebenarnya sebuah anomali besar. Ibarat beli bakso tapi gak mau pake kuah; ada yang kurang, hambar, dan bikin seret. Pelit: Penyakit "Alergi Sosial" Gerakan "tangan di atas" adalah sinonim dengan Muhammadiyah . Dari rumah sakit sampai panti asuhan, semuanya dibangun pakai modal "iuran" dan "infak". Kalau ada warga yang kalau dengar kotak infak lewat langsung pura-pur...

Berbeda Praktik Keagamaan, Masihkah Disebut Muhammadiyah?

Sumber Gambar:  ChatGPT Pembuka Beberapa waktu lalu, di tengah sebuah pengajian, saya ditanya oleh seorang jamaah yang duduk di samping saya. Beliau bisa dikatakan masih baru dalam ber-Muhammadiyah. Pertanyaannya sebenarnya bukan hal baru—bahkan pertanyaan yang dulu pernah saya ajukan sendiri ketika masih muda. Pertanyaannya kurang lebih begini: Apakah seseorang yang sholat menggunakan qunut bisa dikatakan bukan orang Muhammadiyah Apakah sholat Id tanpa takbir tambahan berarti bukan Muhammadiyah? Bagaimana dengan beberapa daerah yang warga Muhammadiyah-nya tidak menggunakan takbir tambahan tersebut Bagaimana dengan mereka yang masih menghalalkan bunga bank, padahal berbeda dengan keputusan Muhammadiyah? Bagaimana dengan poligami? Perbedaan-perbedaan praktik di kalangan warga Muhammadiyah seperti ini sering kali dijadikan pemicu untuk memberi label kepada sesama warga Muhammadiyah sebagai “bukan Muhammadiyah”. Soal Identitas Mengenai perbedaan praktik keagamaan tersebut, pernah saya...

Ibadah Berdalil, Organisasi Bertata: Menyelami Tanawwu’ fil Ibadah dan Dinamika Pemikiran Ber-Muhammadiyah

Sumber Gambar:  ChatGPT   Ibadah Berdalil, Organisasi Bertata: Menyelami Tanawwu’ fil Ibadah dan Dinamika Pemikiran Ber-Muhammadiyah Oleh:  Sukma Jaya "Muhammadiyah itu pandai berbaris tapi susah diajak kumpul, sementara NU pandai berkumpul tapi susah diajak baris."  Seloroh yang sering terdengar di meja kopi aktivis ini bukan sekadar guyonan. Bagi Muhammadiyah, "pandai berbaris" adalah representasi kekuatan sistem, ketaatan pada aturan, dan kerapian nomenklatur. Namun, rahasia besar Muhammadiyah mampu melintasi zaman selama lebih dari satu abad bukan hanya karena ia dikelola sebagai perkumpulan, melainkan sebagai sebuah  "Barisan Ibadah." Tanawwu’ fil Ibadah: Keragaman dalam Koridor Dalil Sebagai gerakan  tajdid  (pembaruan), Muhammadiyah percaya bahwa ibadah adalah pengabdian yang memiliki "legalitas" wahyu yang jelas. Di sinilah konsep Tanawwu’ fil Ibadah—keragaman cara beribadah—menjadi sangat krusial. Seringkali orang salah memahami, mengang...

Mematikan "Ego Raja": Rahasia Organisasi Berumur Panjang

Sumber Gambar: ChatGPT Pernahkah kita membayangkan mengapa sebuah kerajaan besar bisa retak hanya karena urusan kecil, kunci pintu, sementara organisasi dengan jutaan anggota bisa tetap solid selama berabad-abad? Konflik berkepanjangan di Keraton Kasunanan Surakarta memberikan kita pelajaran mahal. Di balik tembok tebal dan tradisi luhurnya, perseteruan yang terjadi seringkali bukan soal ideologi besar, melainkan soal "Ego Raja". Ketika kepemimpinan dianggap sebagai hak milik pribadi, warisan darah, atau pundi-pundi kekuasaan absolut, maka di sanalah benih perpecahan mulai tumbuh. Tragedi Singgasana Tunggal Raja adalah pusat tata surya dalam sistem monarki absolut yang kaku. Seluruh planet di sekelilingnya akan berbenturan jika pusat goyah. Kasus Keraton Solo menunjukkan bahwa kepemimpinan menjadi sangat rapuh terhadap perasaan pribadi, kecemburuan antar saudara, dan perebutan akses keuangan ketika tidak ada mekanisme "pembagi kekuasaan" yang disepakati. Perasaan ba...

Buya Anwar Abbas Akan Hadiri Pengajian Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang di Dau

Ahad, 01 Februari 2026. Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Dau, menjadi tuan rumah Pengajian Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang. Pengajian rutin ini dihelat di halaman dan area parkir Warung Tani Dau.  Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Dau, bapak Sukma Jaya, S.Ag., M.Pd., memberikan kabar gembira, "bahwa nanti, InsyaAllah yang menjadi pembicara dalam pengajian kali ini adalah, pak Anwar Abbas. InsyaAllah beliau siap hadir, ini berita yang sudah terkonfirmasi melalui Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang, dari pak Nurul-", sapaan akrab dari Dr. HM Nurul Humaidi, M.Ag. Kabar ini disambut dengan baik oleh Panitia dan  tuan rumah warga Muhammadiyah di Kecamatan Dau. Ustadz  Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.PdI., M.HI., sebagai ketua pelaksana, berpesan kepada teman-teman yang tergabung dalam kepanitiaan, agar tetap semangat dalam mempersiapkan agenda ini dan terus berkomunikasi jika ada hal-hal yang baru.  "Wah, mantab ini, pembicaranya. Pak Anwar...