Ketika Otak, Perut dan Hati Kosong. Ada ungkapan menarik: “Tidak seperti perut, otak tidak akan memberitahu kita ketika isinya kosong.” Ada lagi: “Tidak seperti perut, hati tidak selalu mengatakan kepada kita bahwa isinya kosong.” Ini menarik. Sebab perut itu termasuk anggota tubuh yang jujur. Kalau lapar, ya berbunyi. Tidak perlu seminar, tidak perlu penelitian, tidak perlu ditanya ustaz. Perut langsung memberi pengumuman sendiri. Tetapi otak tidak begitu. Orang yang kurang ilmu kadang tidak merasa bahwa ilmunya kurang. Malah kadang merasa paling tahu. Ini yang repot. Karena kalau orang lapar, ia mencari makanan. Tetapi kalau orang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, ia tidak merasa perlu belajar. Makanya orang alim itu biasanya justru merasa ilmunya sedikit. Semakin banyak membaca, semakin sadar bahwa yang belum diketahui masih banyak. Sebaliknya, orang yang baru mengetahui satu atau dua hal kadang sudah merasa semua persoalan selesai. Karena itu, Allah bertanya dal...
Pujian dan Celaan Mempengaruhi Kebaikan. Ada kalanya kita begitu bersemangat melakukan kebaikan ketika banyak orang memuji. Kita menjadi rajin, ringan tangan, dan penuh tenaga karena merasa dilihat, dihargai, serta dianggap sebagai orang baik. Namun ketika pujian tidak lagi terdengar, semangat itu perlahan melemah. Bahkan, hanya karena satu kritik atau cemoohan, kita dapat berhenti melakukan kebaikan yang sebelumnya kita perjuangkan. Lalu kita perlu bertanya kepada diri sendiri: mengapa pujian dan celaan manusia begitu mudah memengaruhi kebaikan kita? Barangkali karena tanpa disadari, kita masih menggantungkan amal kepada manusia. Kita mengira sedang mencari keridaan Allah, padahal hati kita masih menunggu pengakuan dari orang lain. Kita merasa ikhlas, tetapi menjadi kecewa ketika tidak dihargai. Kita mengatakan berbuat baik karena Allah, tetapi kehilangan semangat saat nama kita tidak disebut. Padahal manusia adalah makhluk yang mudah berubah. Hari ini mereka memuji, ...