Perjalanan seorang mukmin bersama Al-Qur'an bukanlah sekadar rutinitas membaca, melainkan sebuah pendakian spiritual yang memiliki tingkatan-tingkatan indah. Langkah pertama dimulai dari al-Istima' , yakni kesediaan telinga untuk menyimak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 204, bahwa ketika Al-Qur'an dibacakan, kita hendaknya mendengarkan dengan saksama dan diam agar rahmat Allah tercurah. Mendengar bukan sekadar menangkap suara, tapi menghadirkan hati. Sebagaimana kata para ulama, rahmat Allah begitu dekat kepada mereka yang diam mendengarkan kalam-Nya; jika pendengar saja mendapat rahmat, bayangkan apa yang didapatkan oleh pembacanya. Setelah telinga terbiasa bersinggungan dengan wahyu, interaksi naik ke level al-Tilawah . Dalam Surah Al-Baqarah ayat 121, Allah memuji mereka yang membaca Al-Kitab dengan haqqah tilawatih, sebenar-benarnya bacaan. Para mufassir menjelaskan bahwa membaca dengan sebenar-benarnya mencakup tajwid yang be...
Sebagai pembaca yang kritis, penting untuk menimbang karya Armstrong ini dari perspektif Islam yang otentik. Meskipun banyak intelektual Muslim yang menghargai upaya Armstrong dalam membangun dialog antaragama, para ulama dan cendekiawan Muslim memiliki beberapa keberatan mendasar terhadap metodologi dan kesimpulan dalam "Sejarah Tuhan". Kritik Epistemologis dan Metodologis. 1. Pendekatan Historis-Reduksionis: Ulama mengkritik Armstrong karena memperlakukan Tuhan sebagai "konsep" yang berevolusi dalam sejarah manusia, bukan sebagai Realitas Absolut yang mengatasi sejarah. Dalam Islam, Allah SWT adalah al-Haqq (Kebenaran Mutlak) yang keberadaan-Nya tidak bergantung pada persepsi atau evolusi pemikiran manusia. 2. Penyamarataan Pengalaman Religius: Armstrong sering menyamakan pengalaman mistis semua agama sebagai esensi sejati ketuhanan. Ulama seperti Syekh Hamza Yusuf mengingatkan bahwa meskipun ada kemiripan eksternal, pengalaman sufi Islam memiliki das...