Disiplin sering kali terdengar seperti kata yang kaku dan penuh aturan. Namun di bulan Ramadhan, disiplin justru hadir dalam bentuk yang lebih hangat dan bermakna. Ia tidak dipaksakan dengan ancaman, melainkan dibangun melalui kesadaran ibadah. Di dalam rumah, anak-anak belajar bahwa kehidupan memiliki ritme dan keteraturan, dan dari situlah tanggung jawab pribadi mulai tumbuh. Mari kita perhatikan Firman Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 187 yang artinya “…Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam…”. Penggalan ayat ini menunjukkan bahwa puasa memiliki batas waktu yang tegas. Ada awal, ada akhir, ada aturan yang harus ditaati. Dari sini anak belajar bahwa kebebasan bukan berarti tanpa batas. Justru dalam aturan itulah nilai pendidikan terbentuk. Bangun sahur tepat waktu, menahan diri hingga maghrib, melaksanakan shalat tarawih, dan menjaga ibadah harian, semua itu ...
Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda di dalam rumah. Ritme kehidupan berubah. Waktu makan bergeser. Aktivitas malam terasa lebih hidup. Namun sesungguhnya perubahan terbesar bukan terletak pada jadwal, melainkan pada peluang pendidikan karakter yang terbuka lebar di tengah keluarga. Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah individual, tetapi madrasah pembentukan pribadi yang berlangsung di ruang-ruang rumah kita sendiri. Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183 Allah menegaskan taqwa sebagai tujuan puasa: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Takwa adalah inti dari karakter mulia. Ia melahirkan kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, dan pengendalian diri. Nilai-nilai inilah yang sesungguhnya sedang dilatih melalui puasa. Anak-anak belajar bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi. Mereka belajar menunda, menahan, dan mengelola dorongan diri. Di dalam sebuah hadits y...