Langsung ke konten utama

Postingan

PERUSAK AMAL DI BULAN RAMADHAN

 Lima hal ini patut dihindari ketika kita menjalankan puasa di Bulan Ramadhan. Inilah hal-hal perusak di bulan Ramadhan. Perusak 01: Tanpa ilmu  Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, اَنَّ العَامِلَ بِلَا عِلْمٍ كَالسَّائِرِ بِلاَ دَلِيْلٍ وَمَعْلُوْمٌ اَنَّ عَطَبَ مِثْلِ هَذَا اَقْرَبُ مِنْ سَلاَمَتِهِ وَاِنْ قُدِّرَ سَلاَمَتُهُ اِتِّفَاقًا نَادِرًا فَهُوَ غَيْرُ مَحْمُوْدٍ بَلْ مَذْمُوْمٌ عِنْدَ العُقَلاَءِ “Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang rusak karena berjalan tanpa penuntun tadi akan mendapatkan kesulitan dan sulit bisa selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan.” Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata, مَنْ فَارَقَ الدَّلِيْل ضَلَّ السَّبِيْل وَلاَ دَلِيْلَ إِلاَّ بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُوْل “Siapa yang terpisah dari penuntun jalannya, maka tentu ia bisa tersesat. Tidak ada penuntun yang terbaik bagi kita selain de...
Postingan terbaru

ENAM HAL PEMBATAL PUASA

  1. Makan dan minum dengan sengaja. Hal ini merupakan pembatal puasa berdasarkan kesepakatan para ulama. Makan dan minum yang dimaksudkan adalah dengan memasukkan apa saja ke dalam tubuh melalui mulut, baik yang dimasukkan adalah sesuatu yang bermanfaat (seperti roti dan makanan lainnya), sesuatu yang membahayakan atau diharamkan (seperti khomr dan rokok), atau sesuatu yang tidak ada nilai manfaat atau bahaya (seperti potongan kayu).  Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.”  (QS. Al Baqarah: 187). Jika orang yang berpuasa lupa, keliru, atau dipaksa, puasanya tidaklah batal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا نَسِىَ فَأَكَلَ وَشَ...

LIMA AMALAN PELEBUR DOSA DI BULAN RAMADHAN

Berikut disebutkan beberapa amalan yang bisa melebur dosa di bulan Ramadhan. 1- Shalat lima waktu, bertemu dengan hari Jumat dan bertemu dengan Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ “Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233) 2. Amalan puasa Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760) Dari Hu...

Ramadhan dan Seni Menjadi Sabar

  Ramadhan selalu menghadirkan satu kata yang ringan diucapkan tetapi berat dijalankan yakni sabar. Setiap memasuki bulan suci, kita diingatkan bahwa puasa adalah latihan kesabaran. Namun sering kali sabar dipahami secara sempit, sekadar menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga maghrib. Padahal, Ramadhan adalah madrasah besar yang mendidik manusia agar matang secara spiritual dan sosial. Al-Qur’an menegaskan, “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 153). Ayat ini menunjukkan bahwa sabar bukan sikap pasif, melainkan energi aktif yang menguatkan langkah hidup. Bahkan dalam ayat lain ditegaskan, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar: 10). Sabar memiliki dimensi pahala yang tak terhingga. Rasulullah ﷺ juga menegaskan, “Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, janganla...

Menjadi Khalifah yang Membumi: Spirit Ekoteologi dalam Kehidupan Sehari-hari

  Dalam pandangan Islam, manusia tidak hadir di bumi tanpa mandat. Al-Qur’an menyebut manusia sebagai khalifah , sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 30. Istilah ini bukan sekadar gelar kehormatan, melainkan amanah besar: menjadi wakil Allah dalam mengelola dan memakmurkan bumi. Kekhalifahan bukan lisensi untuk menguasai secara serakah, tetapi tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan dan keadilan. Secara konseptual, khalifah berarti pengganti atau pengelola yang diberi mandat. Dalam literatur tafsir klasik seperti Tafsir al-Tabari, kekhalifahan dipahami sebagai penugasan manusia untuk menegakkan kehendak Allah di bumi, termasuk menjaga keteraturan dan mencegah kerusakan. Amanah ini bersifat moral dan spiritual. Artinya, kepemimpinan manusia atas bumi tidak berdiri di atas hak mutlak, melainkan di atas tanggung jawab dan pertanggungjawaban. Di sinilah konsep ekoteologi menemukan relevansinya. Ekoteologi adalah refleksi teologis tentang relasi iman dan lingkungan hidup. ...

Ramadhan sebagai Madrasah Pertama bagi Anak

  Sering kali kita memandang sekolah sebagai tempat utama pendidikan anak. Padahal, rumah adalah madrasah pertama dan orang tua adalah guru yang paling awal dikenal. Ramadhan menghadirkan kurikulum istimewa yang tidak tertulis di papan tulis, tetapi hidup dalam keseharian keluarga. Di bulan inilah nilai-nilai dasar kehidupan diajarkan secara alami dan menyentuh hati. Barangkali di sekeliling kita masih ada dan mungkin banyak orang yang tidak berpuasa padahal tidak ada udzur syar’i. Mereka terlihat segar, berbadan sehat, berkecukupan secara ekonomi, dan juga berpengetahuan, dapat mengerjakan tugas keseharian dengan baik. Bisa jadi yang demikian itu salah satu sebabnya adalah dikarenakan tidak mendapatkan pendidikan di masa kecil. Rumah tidak dimanfaatkan sebagai madrasah bagi anak untuk membentuk karakter beriman. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an Surat Thaha ayat 132 yang artinya: “Dan perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” A...

Menanamkan Nilai Disiplin Puasa pada Anak di Rumah

  Disiplin sering kali terdengar seperti kata yang kaku dan penuh aturan. Namun di bulan Ramadhan, disiplin justru hadir dalam bentuk yang lebih hangat dan bermakna. Ia tidak dipaksakan dengan ancaman, melainkan dibangun melalui kesadaran ibadah. Di dalam rumah, anak-anak belajar bahwa kehidupan memiliki ritme dan keteraturan, dan dari situlah tanggung jawab pribadi mulai tumbuh. Mari kita perhatikan Firman Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 187 yang artinya “…Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam…”. Penggalan ayat ini menunjukkan bahwa puasa memiliki batas waktu yang tegas. Ada awal, ada akhir, ada aturan yang harus ditaati. Dari sini anak belajar bahwa kebebasan bukan berarti tanpa batas. Justru dalam aturan itulah nilai pendidikan terbentuk. Bangun sahur tepat waktu, menahan diri hingga maghrib, melaksanakan shalat tarawih, dan menjaga ibadah harian, semua itu ...