Sering kali kita memandang sekolah sebagai tempat utama
pendidikan anak. Padahal, rumah adalah madrasah pertama dan orang tua adalah
guru yang paling awal dikenal. Ramadhan menghadirkan kurikulum istimewa yang
tidak tertulis di papan tulis, tetapi hidup dalam keseharian keluarga. Di bulan
inilah nilai-nilai dasar kehidupan diajarkan secara alami dan menyentuh hati.
Barangkali di sekeliling kita masih ada dan mungkin banyak orang yang tidak berpuasa padahal tidak ada udzur syar’i. Mereka terlihat segar, berbadan sehat, berkecukupan secara ekonomi, dan juga berpengetahuan, dapat mengerjakan tugas keseharian dengan baik. Bisa jadi yang demikian itu salah satu sebabnya adalah dikarenakan tidak mendapatkan pendidikan di masa kecil. Rumah tidak dimanfaatkan sebagai madrasah bagi anak untuk membentuk karakter beriman.
Allah berfirman di dalam Al-Qur’an Surat Thaha ayat 132 yang artinya: “Dan perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” Ayat ini menegaskan bahwa pendidikan dimulai dari keluarga. Perintah beribadah tidak hanya bersifat personal, tetapi juga kolektif dalam lingkup rumah tangga. Ramadhan menjadi momentum konkret untuk menjalankan perintah ini dengan lebih intens.
Di bulan puasa, anak menyaksikan langsung bagaimana orang tua menahan lapar dan dahaga, tetap bekerja dengan penuh tanggung jawab, serta menjaga lisan dan sikap. Mereka melihat bahwa iman bukan sekadar ucapan, tetapi praktik nyata. Pendidikan seperti ini jauh lebih kuat daripada nasihat panjang tanpa contoh.
Sebuah hadits dari Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Mengingatkan kita bahwa orang tua adalah pemimpin dalam keluarga. Maka, Ramadhan menjadi masa evaluasi kepemimpinan itu: sejauh mana rumah menghadirkan suasana ibadah? Sejauh mana anak merasa dekat dengan nilai-nilai agama?
Tadarus bersama setelah maghrib, doa sebelum berbuka, shalat berjamaah, hingga percakapan ringan tentang makna puasa, semua itu membentuk atmosfer spiritual yang kuat. Anak belajar bahwa agama bukan hanya milik masjid atau sekolah, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ramadhan juga mengajarkan kesederhanaan. Saat berbuka dengan kurma dan air putih terasa begitu nikmat, anak memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada kemewahan. Dari pengalaman ini tumbuh rasa syukur yang tulus.
Jika keluarga mampu menjadikan Ramadhan sebagai madrasah kehidupan,
maka fondasi spiritual anak akan semakin kokoh. Ia tidak hanya cerdas secara
akademik, tetapi juga matang secara moral dan emosional. Dari rumah yang hidup
dengan nilai Ramadhan, lahirlah generasi yang berakar kuat pada iman dan
berbuah dalam akhlak
![]() |
| Penulis: Khilmi Arif |


Komentar
Posting Komentar