Langsung ke konten utama

Membangun AUM dan PCM yang Unggul, Dimulai dari Mana?

Setiap kali mendengar kisah tentang Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang berkembang pesat, perhatian kita hampir selalu tertuju pada hasil akhirnya. Ada sekolah yang semakin diminati masyarakat, klinik yang pelayanannya semakin baik, masjid yang semakin hidup, atau lembaga sosial yang manfaatnya semakin luas. 

Namun, di balik setiap AUM yang bertumbuh, ada satu pertanyaan yang menarik untuk direnungkan bersama: sesungguhnya dari mana sebuah kemajuan itu dimulai?

Apakah semuanya bermula dari kecukupan dana? Dari banyaknya aset? Dari lokasi yang strategis? Ataukah justru dari sesuatu yang sering luput kita perhatikan, yaitu kualitas kepemimpinan di dalam Persyarikatan itu sendiri?

Pertanyaan ini menjadi menarik karena kita menyaksikan kenyataan yang beragam. Ada PCM yang mampu melahirkan berbagai AUM yang maju, sementara ada pula PCM yang memiliki jumlah warga, aset, bahkan potensi yang tidak jauh berbeda, tetapi pertumbuhan AUM-nya berjalan lebih lambat. Tentu setiap daerah memiliki tantangan dan karakter yang berbeda sehingga tidak adil jika dibandingkan secara sederhana. Meski demikian, rasanya ada benang merah yang dapat dipelajari bersama.

Barangkali, sebelum berbicara tentang bagaimana membangun AUM, ada baiknya kita lebih dahulu bertanya, bagaimana kondisi “rumah” yang menaunginya?

Bukankah setiap AUM lahir, tumbuh, dan berkembang dalam ekosistem Persyarikatan? Jika demikian, tidak berlebihan kiranya apabila kita mengatakan bahwa dalam batas tertentu, AUM juga merupakan cerminan dari budaya organisasi yang hidup di lingkungan PCM.

Di sinilah saya teringat pada sebuah ungkapan yang sangat dikenal dalam tradisi Islam, ibda’ binafsik, mulailah dari dirimu sendiri.

Ungkapan ini tidak hanya relevan bagi kehidupan pribadi, tetapi juga menarik jika dijadikan bahan renungan dalam kehidupan organisasi. Mungkin sebelum mengharapkan budaya tertentu tumbuh di AUM, kita dapat bertanya terlebih dahulu: apakah budaya itu sudah mulai tumbuh di lingkungan kepemimpinan PCM?

Jika kita berharap AUM menjadi organisasi yang disiplin, apakah disiplin itu terus kita rawat dalam aktivitas organisasi? Jika kita menginginkan komunikasi yang sehat di lingkungan amal usaha, apakah komunikasi yang sama juga terbangun di antara para pengurus? Jika kita berharap para pimpinan AUM menjaga ukhuwah, mungkinkah mereka akan lebih mudah melakukannya apabila teladan itu terlebih dahulu hadir dari para pimpinan Persyarikatan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu bukan untuk menghakimi siapa pun. Justru sebaliknya, ia merupakan ajakan untuk bermuhasabah bersama. Sebab setiap organisasi, termasuk Muhammadiyah, tentu pernah menghadapi dinamika, perbedaan pandangan, bahkan tantangan dalam menjaga kekompakan.

Pengalaman sejumlah PCM yang berkembang tampaknya menunjukkan bahwa ada beberapa budaya yang terus mereka rawat. Bukan karena mereka tidak memiliki persoalan, melainkan karena mereka berusaha menyelesaikan persoalan tanpa kehilangan arah perjuangan.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah kebiasaan turun ke lapangan. Tidak sedikit keputusan yang menjadi lebih bijaksana ketika lahir dari perjumpaan langsung dengan guru, karyawan, jamaah, atau pengelola AUM. Dari sana, para pengurus tidak hanya menerima laporan, tetapi juga merasakan denyut kehidupan amal usaha yang sesungguhnya.

Barangkali kaderisasi juga layak menjadi perhatian bersama. Organisasi yang sehat tidak hanya memikirkan siapa yang memimpin hari ini, tetapi juga siapa yang sedang dipersiapkan untuk memimpin esok hari. Regenerasi bukanlah tanda bahwa kader senior telah selesai berkhidmat, melainkan bukti bahwa Persyarikatan sedang menyiapkan perjalanan yang lebih panjang.

Semua ikhtiar tersebut pada akhirnya bermuara pada satu hal yang sederhana, tetapi tidak selalu mudah dilakukan, yakni keteladanan. Budaya organisasi sering kali tumbuh bukan karena banyaknya aturan yang dibuat, melainkan karena apa yang setiap hari dicontohkan oleh para pemimpinnya. Mungkin inilah makna ibda’ binafsik dalam kehidupan organisasi. 

Maka ketika muncul pertanyaan, “Membangun AUM dan PCM yang unggul, dimulai dari mana?” barangkali jawabannya tidak selalu berada di luar diri kita. Bisa jadi, ia justru dimulai dari keberanian setiap pengurus untuk terus memperbaiki diri, memperkuat kebersamaan, dan memastikan bahwa kepentingan Persyarikatan selalu berada di atas kepentingan pribadi.

Sebab Muhammadiyah sejak awal dibangun bukan hanya oleh orang-orang yang cerdas, tetapi oleh orang-orang yang bersedia terus belajar, saling menguatkan, dan berjalan bersama dalam satu tujuan dakwah. Mungkin semangat itulah yang perlu terus kita rawat, agar PCM semakin bertumbuh dan AUM berkembang sebagai buah dari kepemimpinan yang meneduhkan.

Khilmi Arif
(Warga Muhammadiyah Dau Malang. NBM: 896380)



Komentar