![]() |
| NGASEM di Padepokan HW Dau Malang |
Malang – Sebuah kata dalam Al-Qur’an terkadang
dibaca begitu saja, padahal di baliknya tersimpan makna yang sangat dalam.
Itulah pengalaman yang dirasakan jamaah Ngaji Rutin Senin Malem (NGASEM)
di Padepokan Hizbul Wathan Dau, Kabupaten Malang, Senin (13/7/2026), bersama
Ust. Insan Muhtadawan.
Berbeda dengan pengajian pada umumnya, NGASEM tidak
mengkaji ayat demi ayat secara berurutan, juga tidak semata-mata mengangkat
satu tema tertentu. Kajian ini memilih menelusuri satu istilah dalam Al-Qur’an
secara mendalam. Dari satu kata, jamaah diajak menelusuri ayat-ayat lain yang
menggunakan istilah sepadan maupun yang memiliki kedekatan makna, sehingga
Al-Qur’an seolah menjelaskan dirinya sendiri. Karena itu, meskipun dalam satu
pertemuan hanya membahas satu istilah, keluasan wawasan yang diperoleh justru
sangat kaya.
Pada pertemuan kali ini, istilah yang menjadi pintu masuk
perenungan adalah iṣr, sebagaimana termaktub dalam doa penutup Surah
Al-Baqarah:
“Rabbanā wa lā taḥmil ’alainā iṣran kamā ḥamaltahu
’alallażīna min qablinā…”
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami iṣr
sebagaimana Engkau telah membebankannya kepada orang-orang sebelum kami.”
(QS. Al-Baqarah: 286).
Selama ini, banyak orang memahami iṣr sekadar
sebagai beban yang berat. Padahal, melalui penelusuran berbagai ayat, istilah
tersebut memperlihatkan makna yang lebih luas. Iṣr bukan hanya beban,
tetapi juga sesuatu yang mengikat, membelenggu, dan menghambat seseorang untuk
melangkah menuju ketaatan kepada Allah.
Berangkat dari pemahaman tersebut, Ust. Insan Muhtadawan
mengajak jamaah memandang kehidupan modern dari perspektif Al-Qur’an.
Menurutnya, seseorang bisa saja hidup berkecukupan, memiliki pekerjaan yang
mapan, aktif dalam berbagai aktivitas, bahkan dipandang berhasil oleh banyak
orang. Namun apabila semua itu justru menjauhkan dirinya dari Allah, nikmat
tersebut dapat berubah menjadi iṣr.
“Isrun bukan hanya musibah. Kadang justru nikmat
yang tidak dikelola dengan benar berubah menjadi belenggu,” jelasnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, iṣr dapat menjelma
dalam berbagai bentuk. Utang yang menghilangkan ketenangan, pekerjaan yang
menyita hampir seluruh waktu hingga ibadah terabaikan, media sosial yang
mencuri perhatian, ambisi mengejar jabatan dengan mengorbankan integritas,
ataupun dosa yang terus diulang hingga akhirnya terasa biasa. Semua itu
perlahan mengikat hati dan melemahkan langkah seseorang menuju ridha Allah.
Kajian ini sekaligus mengingatkan bahwa ukuran
berat-ringannya hidup tidak selalu ditentukan oleh banyaknya persoalan. Ada
orang yang hidup sederhana, tetapi hatinya lapang karena dekat dengan Allah.
Sebaliknya, ada pula yang bergelimang fasilitas, namun jiwanya gelisah karena
terikat oleh berbagai “rantai” dunia yang tak kasat mata.
Dari sinilah doa “Rabbanā wa lā taḥmil ’alainā iṣran…”
terasa begitu relevan bagi kehidupan saat ini. Doa tersebut bukan hanya
permohonan agar dijauhkan dari kesulitan hidup, tetapi juga agar Allah membebaskan
hati dari segala bentuk belenggu yang menghalangi perjalanan menuju-Nya.
Kajian malam itu juga mengajak setiap jamaah untuk
bermuhasabah. Jangan-jangan yang selama ini dipandang sebagai keberhasilan
justru telah berubah menjadi iṣr. Jangan-jangan kesibukan mengalahkan
kekhusyukan, harta mengalahkan keberkahan, popularitas mengalahkan ketulusan,
dan ambisi mengalahkan keikhlasan.
Sebaliknya, ketika seseorang mampu melepaskan diri dari iṣr dari
segala belenggu yang mengikat hati selain Allah, ia akan merasakan kemerdekaan
yang sejati. Kemerdekaan itu bukan berarti hidup tanpa tanggung jawab atau
tanpa ujian, melainkan kebebasan batin dari dominasi hawa nafsu, ketakutan
terhadap dunia, serta keterikatan yang berlebihan kepada makhluk. Hati yang
merdeka akan lebih mudah menerima takdir, lebih ringan melangkah dalam
ketaatan, dan lebih tenang menjalani kehidupan. Semakin sedikit belenggu yang
mengikatnya, semakin dekat pula ia kepada Sang Khalik. Sebab, hakikat kebebasan
seorang mukmin bukanlah mampu melakukan apa saja yang diinginkan, melainkan
mampu memilih dan istiqamah pada jalan yang diridhai Allah.
Melalui metode kajian seperti ini, NGASEM tidak sekadar
menyampaikan materi keislaman, tetapi juga mengajak jamaah menyelami kekayaan
diksi Al-Qur’an yang sering luput dari perhatian. Setiap pekan, satu istilah
menjadi pintu masuk untuk memahami keluasan makna ayat-ayat Allah sekaligus
merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Barangkali di situlah letak daya
tariknya: satu kata dibahas dengan penuh kesungguhan, tetapi mampu membuka
cakrawala pemahaman yang jauh lebih luas daripada yang dibayangkan.

Komentar
Posting Komentar