Ketika Otak, Perut dan Hati Kosong.
Ada ungkapan menarik: “Tidak seperti perut, otak tidak akan memberitahu kita ketika isinya kosong.”
Ada lagi: “Tidak seperti perut, hati tidak selalu mengatakan kepada kita bahwa isinya kosong.”
Ini menarik. Sebab perut itu termasuk anggota tubuh yang jujur. Kalau lapar, ya berbunyi. Tidak perlu seminar, tidak perlu penelitian, tidak perlu ditanya ustaz. Perut langsung memberi pengumuman sendiri.
Tetapi otak tidak begitu. Orang yang kurang ilmu kadang tidak merasa bahwa ilmunya kurang. Malah kadang merasa paling tahu. Ini yang repot. Karena kalau orang lapar, ia mencari makanan. Tetapi kalau orang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, ia tidak merasa perlu belajar.
Makanya orang alim itu biasanya justru merasa ilmunya sedikit. Semakin banyak membaca, semakin sadar bahwa yang belum diketahui masih banyak. Sebaliknya, orang yang baru mengetahui satu atau dua hal kadang sudah merasa semua persoalan selesai. Karena itu, Allah bertanya dalam Al-Qur’an: “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”(QS. al-Zumar: 9)
Tentu tidak sama. Tetapi persoalannya, orang yang tidak mengetahui kadang tidak sadar bahwa dirinya tidak mengetahui. Maka belajar itu bukan sekadar supaya kita menjadi pintar. Belajar itu supaya kita tahu batas diri. Orang yang benar-benar berilmu tidak mudah meremehkan orang lain, tidak cepat menyalahkan, dan tidak gampang merasa paling benar. Sebab ilmu yang benar seharusnya melahirkan tawaduk. Kalau setelah belajar seseorang justru semakin sombong, mungkin yang bertambah baru informasinya, belum kebijaksanaannya.
Hati yang Kosong Lebih Sulit Dikenali.
Lebih rumit lagi adalah hati yang kosong. Perut yang kosong membuat orang mencari nasi. Otak yang kosong seharusnya membuat orang mencari ilmu. Tetapi hati yang kosong kadang membuat orang mencari apa saja, tanpa tahu sebenarnya apa yang sedang dicari.
Ada orang merasa gelisah, lalu mengira kurang uang. Setelah uangnya bertambah, masih gelisah. Ada orang merasa sepi, lalu mengira kurang teman. Setelah temannya banyak, tetap merasa sepi. Ada orang mengira kurang dikenal. Setelah terkenal, ternyata masih merasa kurang dihargai.
Mengapa begitu? Karena yang lapar sebenarnya bukan perutnya, bukan pula kebutuhan sosialnya, tetapi hatinya. Masalahnya, hati yang lapar sering diberi makanan yang salah.
Hati membutuhkan iman, tetapi diberi hiburan. Hati membutuhkan zikir, tetapi diberi kesibukan. Hati membutuhkan ketulusan, tetapi diberi pujian. Hati membutuhkan kedekatan dengan Allah, tetapi diberi tambahan urusan dunia.
Bukan berarti hiburan, pekerjaan, harta, dan pergaulan itu salah. Semua boleh, bahkan dapat menjadi nikmat. Tetapi jangan meminta dunia mengerjakan tugas yang hanya dapat diselesaikan oleh iman. Allah berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. al-Ra‘d: 28)
Ayat ini tidak mengatakan bahwa orang beriman tidak memiliki masalah. Bukan begitu. Orang beriman tetap dapat sakit, rugi, kecewa, dan menghadapi kesulitan. Namun, ia mempunyai tempat kembali. Ia tahu kepada siapa harus mengadu dan untuk apa ia menjalani kehidupan.
Ilmu Harus Sampai ke Hati.
Karena itu, jangan hanya mengisi otak, tetapi lupa mengisi hati. Karena, ilmu itu penting. Bahkan dalam Islam, belajar merupakan kemuliaan. Namun, ilmu yang hanya berhenti di kepala dapat membuat seseorang pandai berbicara, tetapi belum tentu pandai menjaga perasaan orang lain.
Ia dapat menghafal banyak dalil, tetapi mudah merendahkan. Ia mengetahui hukum, tetapi kehilangan kasih sayang. Ia pandai menjelaskan kesalahan orang lain, tetapi lupa memeriksa kesalahan dirinya sendiri.
Padahal tujuan ilmu bukan hanya agar kita mampu menjawab pertanyaan. Ilmu juga harus membuat kita semakin takut kepada Allah. Allah berfirman: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fatir: 28)
Berarti tanda ilmu itu bukan hanya banyaknya perkataan. Salah satu tandanya adalah bertambahnya rasa takut kepada Allah, kerendahan hati, dan kehati-hatian dalam memperlakukan manusia.
Kalau pengetahuan bertambah, tetapi kesombongan juga bertambah, berarti ada yang perlu diperbaiki. Kalau ibadah bertambah, tetapi kebencian kepada orang lain semakin besar, hati juga perlu diperiksa. Kalau banyak membaca agama, tetapi semakin mudah menghina, mungkin agama baru masuk ke pikiran, belum sepenuhnya turun ke dalam hati.
Jangan Menunggu Hati Berteriak.
Hati yang kosong tidak selalu berteriak. Kadang ia hanya menunjukkan tanda-tanda kecil. Mudah iri melihat kebahagiaan orang lain. Sulit bersyukur atas nikmat sendiri. Senang dipuji, tetapi marah ketika dikritik. Rajin menilai orang lain, tetapi malas mengoreksi diri. Merasa sibuk setiap hari, tetapi tidak tahu untuk apa hidup ini dijalani.
Karena itu, jangan menunggu hati menjadi keras baru kembali kepada Allah. Jangan menunggu musibah baru berdoa. Jangan menunggu kehilangan baru menyadari nikmat.
Hati perlu dirawat setiap hari, sebagaimana tubuh membutuhkan makanan setiap hari. Caranya tidak harus selalu rumit. Membaca Al-Qur’an walaupun sedikit. Berzikir di sela-sela kesibukan. Menjaga salat. Meminta maaf ketika salah. Bersyukur atas hal-hal kecil. Membantu orang tanpa harus diketahui. Dan sesekali diam untuk memeriksa diri sendiri.
Tanyakan kepada diri: “Sudah lama saya mengurus dunia, tetapi kapan terakhir kali saya mengurus hati?”. “Sudah banyak hal saya pikirkan, tetapi apakah Allah masih menjadi pusat kehidupan saya?”. “Sudah banyak ilmu saya dengarkan, tetapi adakah yang benar-benar mengubah perilaku saya?".
Penutup.
Perut yang kosong mudah diketahui karena ia menimbulkan rasa lapar. Otak yang kosong lebih sulit diketahui karena manusia dapat merasa sudah pintar. Hati yang kosong bahkan lebih tersembunyi karena manusia dapat tampak bahagia, padahal batinnya kehilangan arah.
Maka manusia perlu mengisi ketiganya secara seimbang. Perut diisi dengan makanan yang halal. Otak diisi dengan ilmu yang bermanfaat. Hati diisi dengan iman, zikir, kasih sayang, dan kedekatan kepada Allah.
Jangan malu mengakui bahwa kita belum tahu, sebab dari situlah ilmu dimulai. Jangan malu mengakui bahwa hati kita sedang lemah, sebab dari situlah jalan kembali kepada Allah dibuka.
Yang berbahaya bukanlah menjadi orang yang belum tahu. Yang berbahaya adalah tidak tahu, tetapi merasa paling tahu.
Yang berbahaya bukanlah hati yang pernah kosong. Yang berbahaya adalah hati yang kosong, tetapi terus diisi dengan kesibukan dunia hingga lupa mencari Allah.
Semoga Allah menjadikan ilmu kita sebagai cahaya, bukan sumber kesombongan. Semoga Allah menjadikan hati kita hidup, lembut, mudah bersyukur, dan selalu rindu kembali kepada-Nya.
"Perut yang lapar mencari makanan. Pikiran yang lapar mencari ilmu. Hati yang lapar seharusnya mencari Allah".
Dr. Faizuddin Harliansyah. M.IM
Teras Masjid At-Tanwir Arjuna View
PRM Semanding Dau Kab. Malang.
Komentar
Posting Komentar