Pujian dan Celaan Mempengaruhi Kebaikan.
Ada kalanya kita begitu bersemangat melakukan kebaikan ketika banyak orang memuji. Kita menjadi rajin, ringan tangan, dan penuh tenaga karena merasa dilihat, dihargai, serta dianggap sebagai orang baik. Namun ketika pujian tidak lagi terdengar, semangat itu perlahan melemah. Bahkan, hanya karena satu kritik atau cemoohan, kita dapat berhenti melakukan kebaikan yang sebelumnya kita perjuangkan.
Lalu kita perlu bertanya kepada diri sendiri: mengapa pujian dan celaan manusia begitu mudah memengaruhi kebaikan kita? Barangkali karena tanpa disadari, kita masih menggantungkan amal kepada manusia. Kita mengira sedang mencari keridaan Allah, padahal hati kita masih menunggu pengakuan dari orang lain. Kita merasa ikhlas, tetapi menjadi kecewa ketika tidak dihargai. Kita mengatakan berbuat baik karena Allah, tetapi kehilangan semangat saat nama kita tidak disebut.
Padahal manusia adalah makhluk yang mudah berubah. Hari ini mereka memuji, besok mereka mungkin mencela. Hari ini mereka menganggap kita baik, besok mereka dapat salah memahami kita. Bahkan perbuatan yang sama bisa dipuji oleh satu orang dan dicela oleh orang yang lain.
Kalau semangat berbuat baik kita bergantung pada penilaian manusia, hidup ini akan sangat melelahkan. Kita akan terus sibuk menyesuaikan diri dengan selera orang lain. Ketika dipuji, kita merasa tinggi. Ketika dicela, kita merasa tidak berharga. Akhirnya, bukan Allah yang menentukan arah langkah kita, melainkan komentar manusia.
Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik bukan agar kita mendapatkan tepuk tangan, melainkan agar kita menjadi hamba yang taat. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi bantuan kepada kerabat.” (QS. An-Nahl: 90).
Maka alasan paling kokoh untuk berbuat baik adalah karena Allah memerintahkannya. Kita membantu orang lain karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. Kita bersedekah karena Allah memerintahkan kepedulian. Kita menjaga kejujuran karena Allah mencintai kebenaran. Kita memaafkan bukan karena orang lain selalu pantas dimaafkan, tetapi karena kita berharap ampunan dan kasih sayang Allah.
Kalau kebaikan dilakukan karena Allah, pujian tidak membuat kita lupa diri dan celaan tidak membuat kita berhenti.
Ketika Kebaikan Menunggu Pujian
Bayangkan seseorang yang setiap pagi membersihkan masjid. Ia menyapu lantai, merapikan sajadah, membersihkan tempat wudu, dan membuang sampah. Selama orang-orang memujinya, ia melakukannya dengan penuh semangat.
Namun suatu hari tidak ada yang memperhatikannya. Tidak ada yang mengucapkan terima kasih. Bahkan ada seseorang yang berkata, “Masjidnya kok masih kurang bersih?”
Kalau ia bekerja hanya demi penghargaan manusia, tentu hatinya akan terluka. Ia mungkin berkata, “Sudah capek-capek membersihkan, masih saja dikritik. Lebih baik saya berhenti.”
Akan tetapi, kalau ia membersihkan masjid karena Allah, ia akan berpikir dengan cara yang berbeda. “Kalau memang masih kurang bersih, berarti masih ada yang perlu saya perbaiki. Saya datang bukan untuk mencari pujian. Saya datang untuk merawat rumah Allah.”
Manusia mungkin tidak mengetahui namanya. Orang-orang mungkin tidak menyadari usahanya. Namun Allah mengetahui setiap langkahnya, setiap tetes keringatnya, dan setiap niat baik yang tersembunyi di dalam hatinya. Bukankah mengetahui bahwa Allah melihat kita sudah lebih dari cukup? Kadang kita terlalu sibuk memastikan manusia mengetahui kebaikan kita, sampai lupa bahwa Allah tidak pernah luput melihatnya.
Tidak Semua Kebaikan akan Dibalas dengan Kebaikan.
Kita juga harus memahami bahwa tidak setiap orang yang kita bantu akan membalas dengan baik. Ada orang yang setelah ditolong justru melupakan kita. Ada yang tidak mengucapkan terima kasih. Bahkan mungkin ada yang membicarakan keburukan kita setelah menerima bantuan.
Kalau itu terjadi, jangan menyesal pernah berbuat baik. Sebab sejak awal, tujuan kita bukan agar orang tersebut mengenang jasa kita. Tujuan kita adalah agar Allah menerima amal kita. Allah menggambarkan sikap orang-orang yang ikhlas: “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9).
Ayat ini mengajarkan bahwa tidak mendapatkan ucapan terima kasih bukanlah sebuah kerugian. Bisa jadi Allah sedang mendidik hati kita agar tidak bergantung kepada manusia. Kita memang senang ketika dihargai. Itu manusiawi. Namun jangan sampai penghargaan menjadi tujuan. Sebab apabila pujian menjadi bahan bakar utama, ketika pujian habis, kebaikan kita pun akan berhenti.
Orang yang berbuat baik karena mengharapkan balasan manusia sedang melakukan transaksi. Ia memberi agar diberi, menolong agar ditolong, dan menghargai agar dihargai. Ketika balasan tidak sesuai harapannya, ia kecewa. Namun orang yang berbuat baik karena Allah sedang melakukan ibadah. Ia percaya bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang hilang di sisi-Nya. Manusia boleh lupa, tetapi Allah tidak pernah lupa.
Ketika Celaan Membuat Kita Berhenti.
Selain pujian, celaan juga sering menentukan langkah kita. Ada orang yang mulai rajin datang ke masjid. Lalu seseorang berkata kepadanya, “Sekarang kelihatannya saleh sekali.” Karena merasa malu atau tersindir, ia kemudian mengurangi kehadirannya di masjid. Padahal sebelumnya ia sedang berusaha mendekat kepada Allah.
Ada pula orang yang mulai belajar agama, lalu dicemooh, “Baru belajar sedikit sudah merasa paling benar.” Akhirnya ia berhenti belajar, bukan karena ilmunya tidak bermanfaat, tetapi karena tidak tahan dengan komentar manusia. Ada orang yang gemar bersedekah, lalu dituduh pamer. Karena takut dicela, ia kemudian berhenti membantu orang lain.
Kalau demikian, satu komentar manusia telah berhasil menjauhkan kita dari sebuah kebaikan. Kita menyerahkan kendali amal kepada orang yang mencemooh kita. Padahal orang lain hanya berkomentar beberapa detik, sedangkan kita yang menanggung akibatnya berhari-hari, bahkan mungkin bertahun-tahun.
Tetaplah datang ke masjid. Tetaplah belajar agama. Tetaplah bersedekah. Tetaplah membantu orang lain. Jangan sampai manusia yang mencela justru menjadi penentu hubungan kita dengan Allah. Kalau niat kita belum sempurna, perbaikilah niatnya. Kalau cara kita kurang tepat, perbaikilah caranya. Namun jangan meninggalkan kebaikan hanya karena perkataan manusia.
Kritik Perlu Didengar, tetapi Kebaikan Jangan Ditinggal.
Berbuat baik karena Allah bukan berarti kita menolak semua kritik. Bisa jadi orang lain melihat kekurangan yang tidak kita sadari. Kalau kritik itu benar, terimalah sebagai nasihat. Jangan gengsi untuk memperbaiki diri. Orang yang ikhlas bukan orang yang merasa selalu benar. Orang yang ikhlas justru bersedia memperbaiki cara agar kebaikannya semakin bermanfaat.
Kalau seseorang mengkritik cara kita mengajar, evaluasilah cara mengajarnya, bukan berhenti menyampaikan ilmu. Kalau seseorang mengkritik pengelolaan sedekah, perbaikilah pengelolaannya, bukan berhenti bersedekah. Kalau seseorang mengkritik cara kita berdakwah, perhaluslah bahasanya, perbaiki pendekatannya, tetapi jangan kehilangan semangat untuk menyampaikan kebenaran.
Kritik seharusnya memperbaiki cara, bukan mematikan amal. Adapun apabila celaan itu tidak benar, serahkanlah kepada Allah. Tidak semua perkataan manusia harus kita jawab. Tidak semua kesalahpahaman harus kita luruskan. Kadang diam, bersabar, dan terus berbuat baik merupakan jawaban yang paling bermartabat.
Pujian juga Merupakan Ujian.
Kita sering menganggap hanya celaan yang menjadi ujian. Padahal pujian juga ujian, bahkan terkadang lebih berat.
Celaan mungkin membuat kita bersedih, tetapi pujian dapat membuat kita lupa diri. Ketika dipuji, hati merasa lebih baik daripada orang lain. Kita mulai menikmati pengakuan, senang disebut-sebut, dan kecewa ketika nama kita tidak diumumkan.
Misalnya, seseorang membantu pembangunan masjid. Selama namanya disebut oleh panitia, ia merasa senang dan terus membantu. Namun ketika namanya tidak diumumkan, ia marah dan tidak mau menyumbang lagi.
Mungkin yang sedang ia bangun bukan hanya masjid, tetapi juga nama baiknya sendiri. Padahal masjid tetap menjadi rumah Allah meskipun nama penyumbangnya tidak tertulis. Sedekah tetap bernilai meskipun tidak diumumkan. Bahkan sering kali amal yang paling tersembunyi justru paling aman bagi hati.
Pujian tidak selalu harus ditolak, tetapi jangan sampai diminum habis oleh hati. Ketika dipuji, kembalikan semuanya kepada Allah. Katakan dalam hati: “Ya Allah, mereka hanya melihat kebaikan yang Engkau tampakkan. Mereka tidak mengetahui kekurangan yang Engkau tutupi. Jangan jadikan pujian mereka merusak niatku.”
Pujian manusia tidak otomatis membuat kita mulia di hadapan Allah. Demikian juga celaan manusia tidak otomatis membuat kita hina di sisi-Nya.Yang menentukan nilai kita bukanlah banyaknya orang yang memuji, melainkan ketulusan hati dan ketakwaan kepada Allah.
Ikhlas bukan Berarti tidak Memiliki Perasaan.
Ikhlas bukan berarti kita tidak pernah senang ketika dipuji. Senang dipuji adalah bagian dari sifat manusia.
Ikhlas juga bukan berarti hati kita tidak pernah terluka ketika dicela. Perkataan kasar tetap dapat menyakitkan, bahkan kepada orang yang saleh sekalipun. Namun orang yang ikhlas tidak menjadikan rasa senang dan rasa sakit itu sebagai penentu ketaatan.
Ketika dipuji, ia tidak menjadi sombong. Ketika dicela, ia tidak meninggalkan kebaikan. Ketika dihargai, ia bersyukur. Ketika tidak dihargai, ia tetap berjalan.
Ikhlas bukan berarti hati tidak pernah terganggu. Ikhlas berarti setiap kali hati terganggu, kita mengembalikannya kepada Allah. Kita kembali mengingat: “Aku melakukan ini bukan untuk mereka. Aku melakukannya karena Allah.”
Jangan Serahkan Kunci Semangat Kita kepada Manusia.
Orang yang menggantungkan kebaikan kepada manusia sebenarnya sedang menyerahkan kunci semangatnya kepada orang lain.
Ketika orang lain memuji, pintu semangat dibuka. Ketika mereka mencela, pintu itu ditutup. Akhirnya, hidupnya dikendalikan oleh komentar, pandangan, dan penilaian manusia.
Jangan menyerahkan kunci itu kepada siapa pun. Letakkanlah kunci semangat kita di hadapan Allah. Selama Allah memerintahkan kebaikan, teruslah berbuat baik. Selama Allah mencintai kejujuran, tetaplah jujur. Selama Allah memerintahkan kepedulian, teruslah membantu. Selama jalan itu diridai-Nya, jangan berhenti hanya karena manusia tidak memahami kita.
Berbuat baiklah meskipun tidak ada yang melihat. Tetaplah jujur meskipun tidak ada yang mengawasi. Tetaplah membantu meskipun tidak ada yang berterima kasih. Tetaplah mendoakan orang lain meskipun mereka tidak pernah mengetahuinya. Tetaplah menjaga amanah meskipun tidak ada orang yang memuji. Sebab nilai kebaikan tidak ditentukan oleh ramainya tepuk tangan manusia, tetapi oleh penerimaan dan keridaan Allah.
Cukuplah Allah yang Mengetahui.
Manusia hanya melihat sebagian kecil dari hidup kita. Mereka tidak mengetahui semua perjuangan, niat, kegelisahan, air mata, dan doa-doa yang kita sembunyikan. Karena itu, jangan menuntut manusia untuk selalu memahami kita. Mereka memang tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui seluruh isi hati kita.
Cukuplah Allah mengetahui. Ketika kebaikan kita disalahpahami, Allah mengetahui niat kita. Ketika perjuangan kita tidak dihargai, Allah mengetahui pengorbanan kita. Ketika kita tetap bertahan meskipun dicela, Allah mengetahui beratnya perjuangan itu.
Kalau manusia memuji, jangan terbang terlalu tinggi. Kalau manusia mencela, jangan tenggelam terlalu dalam. Pujian manusia tidak dapat menjamin keselamatan kita, dan celaan manusia tidak dapat menutup rahmat Allah dari kita.
Tugas kita bukan membuat semua orang menyukai kita. Tugas kita adalah menjaga agar setiap langkah tidak menjauhkan kita dari Allah. Maka teruslah berbuat baik. Kalau dihargai, bersyukurlah. Kalau tidak dihargai, bersabarlah. Kalau dipuji, jangan lupa diri. Kalau dicela, jangan berhenti. Kalau kritik itu benar, perbaikilah diri. Kalau kritik itu keliru, serahkanlah kepada Allah.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tidak mudah terbuai oleh pujian, tidak mudah runtuh oleh celaan, dan tidak pernah menyesal karena telah melakukan kebaikan. Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap ikhlas, langkah kita tetap teguh, dan setiap amal kita benar-benar tertuju hanya kepada-Nya.
Dr. Faizuddin Harliansyah, M.IM
Masjid At-Tanwir Perum Arjuna View
PRM Semanding Dau Kab. Malang
Komentar
Posting Komentar