Langsung ke konten utama

Halal bihalal Muhammadiyah: Eratkan Ukhuwah, Satukan Jama'ah Lintas Ranting.

Semanding, Dau – Suasana hangat dan penuh keakraban terasa dalam kegiatan Kajian dan Halalbihalal Muhammadiyah Ranting Semanding yang digelar pada Kamis malam, 16 April 2026 pukul 19.30 WIB di Masjid At-Tanwir Semanding, Kecamatan Dau. Acara ini menjadi momentum penting untuk mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus memperkuat silaturahmi antar jamaah Muhammadiyah lintas ranting.

Tidak hanya dihadiri oleh jamaah Muhammadiyah Ranting Semanding, kegiatan ini juga diikuti oleh jamaah dari berbagai ranting lain seperti Sumbersekar, Dadaprejo (Kota Batu), hingga Jetak Ngasri. Kehadiran lintas wilayah ini mencerminkan semangat kebersamaan dan kepedulian untuk terus menjaga persatuan umat.

Dalam sambutannya, Ketua Ranting Muhammadiyah Semanding, Kahar Mashur, menyampaikan bahwa jamaah Muhammadiyah di wilayah Semanding berasal dari berbagai latar belakang, termasuk warga yang tinggal di sejumlah perumahan seperti Puncak Permata Sengkaling, Arjuna View, Le Bana, hingga Istana Savira. Hal ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah hadir dan tumbuh di tengah masyarakat yang beragam, namun tetap solid dalam nilai-nilai keislaman. Kahar Mashur yang juga menjabat sebagai Ketua Lazismu Kabupaten Malang menegaskan pentingnya menjaga kebersamaan dan kontribusi sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Tausyiah halalbihalal disampaikan oleh Ustadz Dr. Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag, yang merupakan Dewan Pengawas Syariah Lazismu Kabupaten Malang sekaligus dosen PBA FAI Universitas Muhammadiyah Malang. Dalam penyampaiannya, beliau mengungkapkan sejumlah poin menarik dan penuh makna.

Pertama, istilah halalbihalal merupakan budaya khas Indonesia yang tidak ditemukan di negara lain, sehingga menjadi kekayaan tradisi Islam Nusantara. Kedua, inti dari halalbihalal adalah saling mendoakan, salah satunya dengan doa: “Taqabbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum” yang berarti semoga Allah menerima amal ibadah puasa kita semua.

Selain itu, beliau menegaskan bahwa esensi halalbihalal adalah mempererat silaturahmi dan saling memaafkan. Namun, memaafkan sejatinya tidak harus menunggu bulan Syawal—melainkan bisa dilakukan kapan saja sebagai bagian dari akhlak seorang Muslim.

Poin penting lainnya adalah tentang istiqomah. Menurutnya, Muslim yang hebat adalah mereka yang tetap konsisten dalam ibadah dan sedekah setelah Ramadhan berakhir. Nilai-nilai spiritual Ramadhan seharusnya tidak berhenti, tetapi terus hidup dalam sebelas bulan berikutnya.

Kegiatan halalbihalal ini ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ustadz Ahmad Fatoni, dilanjutkan dengan ramah tamah antar jamaah. Momen ini menjadi ajang saling menyapa, berbagi cerita, dan mempererat hubungan yang telah terjalin.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan semangat ukhuwah, kepedulian sosial, dan nilai-nilai keislaman yang kuat dapat terus tumbuh dan mengakar di tengah masyarakat, khususnya di lingkungan Muhammadiyah Semanding.

Penulis : Juta Amrullah, M.Sc.

Komentar