✨ Menjelang
Satu Abad NU: Mengapa Muhammadiyah Perlu Belajar "Ikramul Ulama"?
✍🏻 Penulis : Sukma Jaya
Momentum
Harlah Nahdlatul Ulama (NU) yang memasuki usia satu abad bukan sekadar perayaan
angka bagi kaum Nahdliyin. Bagi Muhammadiyah, ini adalah cermin besar untuk
merefleksikan kembali bagaimana sebuah gerakan menjaga "ruh" dan
"manusianya". Di tengah keunggulan Muhammadiyah mengelola ribuan amal
usaha secara modern, ada satu ruang sunyi yang perlu diisi: tradisi ikramul
ulama—memuliakan ulama.
Karisma vs Sistem: Sebuah Ironi
Muhammadiyah
adalah juara dalam membangun sistem. Dengan manajemen yang rapi, organisasi ini
mampu mengubah ketergantungan pada sosok menjadi ketergantungan pada institusi.
Namun, di balik keberhasilan itu, tersimpan risiko sosiologis yang nyata.
Ketika seorang Kyai atau Ustadz Muhammadiyah selesai masa jabatannya (tidak
mengorbit) atau wafat, namanya sering kali menguap begitu saja. Ia menjadi
"baut" yang diganti dalam mesin besar bernama organisasi.
Di sinilah
Muhammadiyah harus rendah hati untuk menengok tetangga saudara mudanya, NU.
Belajar Menjaga "Sanad" Sejarah
Di
lingkungan NU, seorang ulama tidak pernah benar-benar pergi. Tradisi ikramul
ulama memastikan bahwa jasa, ilmu, dan silsilah perjuangan seorang Kyai
tetap hidup melampaui usia biologisnya. Melalui tradisi haul, penulisan manaqib,
hingga ziarah, NU berhasil membangun narasi sejarah yang sambung-menyambung.
Bagi warga
Muhammadiyah, belajar ikramul ulama bukan berarti harus mengadopsi
ritual yang berbeda secara teologis, melainkan mengambil substansinya: Penghormatan
pada sejarah personal.
Ada
beberapa titik krusial yang bisa dipelajari Muhammadiyah dari NU:
- Memanusiakan Sejarah: Muhammadiyah perlu berhenti melihat tokoh-tokohnya hanya sebagai
"mantan pimpinan". Mereka adalah pemegang estafet nilai. Jangan
sampai sekolah-sekolah hebat berdiri atau masjid megah dengan jamaah yang
melimpah, namun siswa atau jamaah di dalamnya tak tahu siapa tokoh atau ustadz
yang dahulu membabat alas dengan tetesan keringat dan berdarah-darah di
tanah tersebut.
- Literasi Biografi: NU sangat kaya dengan kisah-kisah karomah dan keteladanan kyainya.
Muhammadiyah perlu memperkuat literasi biografi ustadz dan kyai lokal di
tingkat Ranting dan Cabang agar mereka tidak "lenyap tanpa
sejarah".
- Koneksi Emosional dengan Zurriyah: Menghargai keturunan (keluarga) para pendiri amal usaha adalah
bentuk apresiasi kemanusiaan. Muhammadiyah harus memastikan keluarga para
pejuang dakwahnya tetap merasa memiliki (dan dimiliki) oleh persyarikatan.
Menuju Sintesis yang Harmonis
Jika NU
adalah organisasi yang "menjaga tradisi", dan Muhammadiyah adalah
organisasi yang "menjemput masa depan", maka di titik seratus tahun
NU ini, keduanya bisa saling melengkapi. Muhammadiyah tidak akan menjadi kurang
berkemajuan hanya karena ia mulai lebih menghargai sejarah personal ulamanya.
Justru,
sebuah peradaban yang besar tidak hanya dibangun di atas beton-beton gedung
sekolah dan rumah sakit, tapi di atas rasa takzim kepada mereka yang telah
meletakkan batu pertamanya.
Selamat
Harlah satu abad untuk Nahdlatul Ulama. Terima kasih telah mengajarkan bangsa
ini cara memuliakan manusia. Dan bagi Muhammadiyah, mari mulai menuliskan
nama-nama ustadz kita di prasasti hati dan ingatan, agar mereka tidak hilang
ditelan dinginnya sistem organisasi.
Bagaimana menurut Anda?
Komentar
Posting Komentar