Langsung ke konten utama

KHGT: Langkah Muhammadiyah Menuju "Satu Hari Raya" bagi Dunia

 


✨ KHGT: Langkah Muhammadiyah Menuju "Satu Hari Raya" bagi Dunia

✍🏻 Penulis : Sukma Jaya

📖 Masyarakat Indonesia tampaknya terbiasa dengan ritual tahunan menunggu hasil Sidang Isbat menjelang Ramadan atau Idulfitri. Setiap tahun, ada ketegangan yang sering muncul antara penganut Rukyat (melihat bulan secara fisik) dan Hisab (perhitungan matematis).

Namun, Muhammadiyah melangkah lebih jauh dengan mengadopsi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) mulai tahun 1446 H. Ini bukan hanya masalah pindah metode penanggalan; itu adalah upaya untuk membawa ibadah umat Islam ke peradaban yang lebih terstruktur di seluruh dunia (
terorganisir secara global).

Fiqh Muqaran: Mencari Titik Temu di Antara Perbedaan

Dalam kajian Fiqh Muqaran (perbandingan mazhab), perbedaan penentuan awal Ramadan biasanya berakar pada interpretasi teks:

  1. Rukyatul Hilal: Bergantung pada teks harfiah untuk "melihat" bulan. Prinsipnya adalah lokalitas (muthlaqul wilayah) dan ta'abbudi (mengikuti contoh langsung Nabi). Jika sesuatu tidak terlihat di satu tempat, hal itu tidak berlaku di tempat lain yang jauh.
  2. Hisab Hakiki: Berfokus pada illat (alasan) mengapa Nabi dulu meminta merukyat; ini adalah karena umat pada saat itu belum mahir menulis dan berhitung. Sekarang, berkat ilmu astronomi yang lebih presisi, perhitungan ini dianggap lebih akurat untuk menentukan lokasi bulan.
  3. Prinsip Kedaulatan Global (KHGT): KHGT berpendapat bahwa Bumi adalah satu kesatuan tempat tinggal (wahdatul mathla'), melampaui keduanya. Jika syarat bulan baru sudah terpenuhi di satu tempat di Bumi, maka hukum tersebut berlaku untuk semua orang yang tinggal di Bumi.

 Prinsip Utama KHGT yang Perlu Diketahui

Mengapa Muhammadiyah beralih ke KHGT? Ada beberapa prinsip mendasar yang menjadi pilar sistem ini:

  • Kesatuan Umat: Menghapus "beda hari raya" antara negara, yang sering menyebabkan kebingungan sosial dan psikologis.
  • Kriteria Turki 2016: Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) merujuk pada kesepakatan internasional yang dibuat di Istanbul. Jika: 
  1. Telah terjadi konjungsi (ijtimak), syarat bulan baru dimulai. 
  2. Saat matahari terbenam, tinggi hilal harus minimal 5° dan jarak sudut (elongasi) harus minimal 8° di mana pun di Bumi. 
  • Satu Hari Satu Tanggal: Tidak boleh ada dua hari Hijriah yang berbeda di seluruh dunia dalam satu hari. Meskipun waktunya berbeda, tanggal 1 Ramadan di Indonesia juga masuk, seperti di Amerika. 
  • Kepastian Kalender: Dengan KHGT, jadwal puasa dan lebaran sudah dapat dipastikan dengan tepat, yang memudahkan perencanaan ekonomi, pendidikan, dan transportasi selama seratus tahun ke depan.

Ramadhan yang Lebih Tertata

Penggunaan KHGT dalam ibadah Ramadan memberikan ketenangan administratif bagi warga Muhammadiyah dan simpatisannya. Tidak ada lagi "menunggu sidang isbat" hingga larut malam untuk memastikan apakah besok jadi puasa.

Namun, KHGT juga memerlukan kelapangan dada. Karena itu, Indonesia mungkin harus memulai puasa lebih awal atau lebih lambat karena standar global ini daripada hasil rukyat lokal pemerintah. Di sinilah kedewasaan beragama diuji: menghargai sistem yang lebih luas untuk mencapai cita-cita kesatuan umat Islam di seluruh dunia. 

Catatan Kritis:

Perbedaan metode adalah rahmat, namun persatuan dalam penanggalan adalah kemaslahatan. KHGT bukan ingin tampil beda, tapi ingin agar umat Islam memiliki sistem waktu yang mapan layaknya kalender Masehi. KHGT adalah tawaran solusi agar energi umat tidak habis hanya untuk meributkan kapan harus mulai menahan lapar, melainkan fokus pada kualitas ibadah itu sendiri.

Kalau kalender produk orang lain, kita kompak sami'na wa atha'na...mengapa untuk kalender kita sendiri kok sulit...

Komentar