Perjalanan seorang mukmin bersama Al-Qur'an bukanlah sekadar rutinitas membaca, melainkan sebuah pendakian spiritual yang memiliki tingkatan-tingkatan indah.
Langkah pertama dimulai dari al-Istima', yakni kesediaan telinga untuk menyimak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 204, bahwa ketika Al-Qur'an dibacakan, kita hendaknya mendengarkan dengan saksama dan diam agar rahmat Allah tercurah. Mendengar bukan sekadar menangkap suara, tapi menghadirkan hati. Sebagaimana kata para ulama, rahmat Allah begitu dekat kepada mereka yang diam mendengarkan kalam-Nya; jika pendengar saja mendapat rahmat, bayangkan apa yang didapatkan oleh pembacanya.
Setelah telinga terbiasa bersinggungan dengan wahyu, interaksi naik ke level al-Tilawah. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 121, Allah memuji mereka yang membaca Al-Kitab dengan haqqah tilawatih, sebenar-benarnya bacaan. Para mufassir menjelaskan bahwa membaca dengan sebenar-benarnya mencakup tajwid yang benar, lisan yang fasih, dan hati yang mengagungkan. Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu pernah berpesan agar kita tidak menghamburkan bacaan Al-Qur'an seperti melempar kurma yang busuk, namun hendaknya kita berhenti pada keajaiban-keajaibannya dan menggerakkan hati dengannya.
Kedekatan ini kemudian berlanjut pada al-Hifzh yaitu menjaga ayat-ayat tersebut di dalam dada. Surah Al-Ankabut ayat 49 menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Menghafal bukan sekadar kompetisi daya ingat, melainkan upaya menjadikan diri sebagai "mushaf berjalan". Al-Qur'an yang tersimpan dalam hafalan akan menjadi lentera di kala gelap dan teman di kala sunyi, memastikan bahwa di mana pun kita berada, petunjuk itu selalu melekat dalam diri.
Namun, semua interaksi tersebut belum mencapai puncaknya sebelum sampai pada al-Tadabbur. Allah berfirman dalam Surah Shad ayat 29 bahwa kitab ini diturunkan agar ayat-ayatnya direnungkan dalam-dalam. Tadabbur adalah kunci yang membuka gembok-gembok hati yang tertutup. Hasan Al-Bashri mengingatkan kita bahwa ada orang yang menghafal seluruh huruf Al-Qur'an namun mengabaikan batasan-batasannya. Maka, merenungi satu ayat dengan pemahaman yang mendalam seringkali lebih menghidupkan jiwa daripada mengkhatamkan berlembar-lembar tanpa bekas.
Hingga akhirnya, muara dari segala interaksi tersebut adalah al-'Amal, yakni mengamalkan apa yang telah disimak, dibaca, dihafal, dan direnungkan. Surah Az-Zumar ayat 18 memberikan kabar gembira bagi mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Inilah esensi sejati dari berinteraksi dengan Al-Qur'an. Sebagaimana ucapan populer para salaf, "Kami mempelajari iman sebelum kami mempelajari Al-Qur'an," yang bermakna bahwa setiap ayat yang turun langsung mereka transformasikan menjadi karakter dan perilaku nyata.
Kini, mari kita tanyakan pada diri sendiri, di tingkatan manakah posisi kita hari ini? Apakah Al-Qur'an masih menjadi tamu asing yang hanya kita kunjungi saat merasa sesak, ataukah ia sudah menjadi napas dalam setiap langkah? Jangan biarkan mushaf di rumah kita berdebu, karena debu di atas mushaf adalah cerminan kekeringan di dalam hati. Mari kita mulai lagi hari ini; mulailah mendengarkannya dengan rindu, membacanya dengan syahdu, dan membumikannya dalam perilaku. Sebab pada akhirnya, Al-Qur'an akan datang di hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para sahabatnya, mereka yang menjadikannya imam dalam setiap tarikan napas kehidupan. Wallaahu'alam.
Penulis : Muhammad Syarif Hidayatullah
NetizMu : Lutfi Letvana
Komentar
Posting Komentar