Pernahkah kita membayangkan mengapa sebuah kerajaan besar bisa retak hanya karena urusan kecil, kunci pintu, sementara organisasi dengan jutaan anggota bisa tetap solid selama berabad-abad?
Konflik berkepanjangan di Keraton Kasunanan Surakarta memberikan kita pelajaran mahal. Di balik tembok tebal dan tradisi luhurnya, perseteruan yang terjadi seringkali bukan soal ideologi besar, melainkan soal "Ego Raja". Ketika kepemimpinan dianggap sebagai hak milik pribadi, warisan darah, atau pundi-pundi kekuasaan absolut, maka di sanalah benih perpecahan mulai tumbuh.
Tragedi Singgasana Tunggal
Raja adalah pusat tata surya dalam sistem monarki absolut yang kaku. Seluruh planet di sekelilingnya akan berbenturan jika pusat goyah. Kasus Keraton Solo menunjukkan bahwa kepemimpinan menjadi sangat rapuh terhadap perasaan pribadi, kecemburuan antar saudara, dan perebutan akses keuangan ketika tidak ada mekanisme "pembagi kekuasaan" yang disepakati.
Perasaan bahwa "Saya adalah organisasi, dan organisasi adalah saya" adalah apa yang kita sebut sebagai "ego raja". Kebanggaan pribadi seringkali mengorbankan kepentingan institusi demi kepentingan pribadi.
Belajar dari "Matahari Bersama" Muhammadiyah
Kontras dengan itu, Muhammadiyah menawarkan model kepemimpinan. Meskipun memiliki aset senilai triliunan rupiah dan jutaan pengikut, organisasi ini hampir tidak pernah mengalami kegagalan kepemimpinan yang fatal. Apa sebenarnya rahasianya? Mereka berhasil menghentikan "Ego Raja" dengan menggunakan sistem Kolektif Kolegial.
Dalam sistem ini, tidak ada "Matahari Tunggal". Kepemimpinan adalah sebuah tim (biasanya berjumlah 13 orang di tingkat pusat).
1. Keputusan adalah Milik Bersama: Ketua Umum tidak dapat membuat keputusan kebijakan strategis sendirian di meja makan. Semuanya harus diselesaikan melalui perundingan dan kesepakatan.
2. Jabatan adalah Giliran, Bukan Warisan: Di Muhammadiyah, seorang anak tokoh besar tidak otomatis menjadi raja kecil. Ada proses kaderisasi yang panjang. Jabatan dipandang sebagai beban amanah yang akan digilir, bukan piala yang harus dipertahankan mati-matian.
3. Aset Milik Umat: Karena aset dikelola secara institusional dan diaudit ketat, tidak ada anggota keluarga pimpinan yang merasa "memiliki" harta organisasi. Ini memutus rantai konflik harta yang sering menghancurkan organisasi tradisional.
Menjaga Marwah: Organisasi adalah Perahu, Bukan Takhta
Untuk menjaga marwah organisasi agar tetap abadi, setiap pemimpin perlu melakukan refleksi diri. Organisasi harus dianggap sebagai perahu yang membawa penumpang ke tujuan bersama, bukan singgasana tempat duduk bersantai.
Ketika seorang pemimpin mampu berkata, "Pendapat saya mungkin salah, dan keputusan organisasi adalah yang utama," pada saat itulah ia telah membunuh "Raja" di dalam dirinya. Ia mungkin kehilangan ego-nya, tapi ia memberikan napas panjang bagi organisasinya.
Kesimpulan untuk Kita
Menjadi pemimpin yang hebat bukan tentang seberapa lama kita berkuasa atau seberapa besar rasa hormat yang kita tuntut. Kehebatan seorang pemimpin diuji saat ia mampu menciptakan sistem yang tetap berjalan kuat bahkan ketika ia sudah tidak lagi ada di sana.
Organisasi yang abadi bukanlah organisasi yang memiliki pemimpin paling perkasa, melainkan organisasi yang berhasil menjinakkan ego individu demi kemaslahatan kolektif. Karena pada akhirnya, singgasana bisa lapuk dimakan usia, namun sistem yang adil akan diingat sejarah.
Bagaimana menurut Anda?
Penulis : Sukma Jaya (Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Dau)
NetizMu : Ali S Kholimi
Komentar
Posting Komentar