Sebagai pembaca yang kritis, penting untuk menimbang karya Armstrong ini dari perspektif Islam yang otentik. Meskipun banyak intelektual Muslim yang menghargai upaya Armstrong dalam membangun dialog antaragama, para ulama dan cendekiawan Muslim memiliki beberapa keberatan mendasar terhadap metodologi dan kesimpulan dalam "Sejarah Tuhan".
Kritik Epistemologis dan Metodologis.
1. Pendekatan Historis-Reduksionis: Ulama mengkritik Armstrong karena memperlakukan Tuhan sebagai "konsep" yang berevolusi dalam sejarah manusia, bukan sebagai Realitas Absolut yang mengatasi sejarah. Dalam Islam, Allah SWT adalah al-Haqq (Kebenaran Mutlak) yang keberadaan-Nya tidak bergantung pada persepsi atau evolusi pemikiran manusia.
2. Penyamarataan Pengalaman Religius: Armstrong sering menyamakan pengalaman mistis semua agama sebagai esensi sejati ketuhanan. Ulama seperti Syekh Hamza Yusuf mengingatkan bahwa meskipun ada kemiripan eksternal, pengalaman sufi Islam memiliki dasar teologis yang berbeda secara prinsipil dari mistisisme agama lain karena berakar pada Tauhid yang murni.
Kritik terhadap Interpretasi Khusus Islam.
1. Pemahaman Terhadap Wahyu: Armstrong memperlakukan Al-Qur'an sebagai produk sejarah dan respons kultural, bukan sebagai Kalamullah yang transenden. Profesor Seyyed Hossein Nasr (meski menghargai upaya Armstrong) mengkritik bahwa pendekatan ini mengabaikan sifat Qadim (keabadian) Al-Qur'an sebagai firman langsung Allah SWT.
2. Representasi Tauhid: Menurut Syekh Abdal Hakim Murad, Armstrong gagal menangkap kekhasan konsep tauhid Islam yang radikal. Tauhid bukan sekadar "monoteisme" dalam spektrum perkembangan agama, tetapi paradigma unik yang memutus secara tegas antara Khaliq dan makhluk, menolak segala bentuk penyerupaan (tasybih) dan pelenyapan (ta'thil).
3. Pembacaan Terhadap Nabi Muhammad SAW: Banyak ulama merasa Armstrong terlalu menekankan aspek "pembaru sosial" Nabi dan kurang menangkap dimensi kenabian universal (khatam al-anbiya') dan misi transendennya sebagai Rahmat bagi seluruh alam (rahmatal lil 'alamin).
Kritik Teologis Fundamental.
1. Relativisme Agama: Dr. Umar Faruq Abdullah mengkritik kecenderungan Armstrong menuju pluralisme religius yang implisit, di mana semua konsep ketuhanan dianggap valid sebagai respons terhadap Yang Mutlak. Ini bertentangan dengan aqidah Islam yang menegaskan bahwa hanya Islam agama yang diterima di sisi Allah SWT (QS Ali Imran: 85).
2. Pengabaian Aspek Normatif: Ulama tradisional seperti Syekh Nuh Ha Mim Keller mencatat bahwa Armstrong fokus pada dimensi mistis dan filosofis tetapi mengabaikan Syariahsebagai manifestasi kehendak Ilahi. Dalam Islam, Tuhan tidak hanya dikenal melalui pengalaman batin, tetapi juga melalui hukum-hukum-Nya yang mengatur kehidupan lahiriah.
3. Konsep "Perkembangan" Tuhan : Ini adalah poin kritik paling keras. Menurut Dr. Javad Gholam-Tamimi, gagasan bahwa "konsep Tuhan berkembang" adalah bentuk antroposentrisme yang keliru. Allah dalam Islam memiliki asma' dan sifat yang tetap, tidak berubah, dan sempurna sejak azali.
Kritik dari Prespektif Aqidah Ahlus Sunnah.
1. Penyamaan Allah dengan Konsep Tuhan Filsafat : Mufti Syekh Ali Gomaa mengingatkan bahaya menyamakan Allahu al-Shamad (Tuhan yang bergantung segala sesuatu kepada-Nya) dengan "Tuhan para filsuf" seperti Penggerak Pertama Aristoteles atau Substansi Tunggal Spinoza.
2. Pengurangan Wahyu kepada Pengalaman Subjektif: Dr. Khalid Zaheer menekankan bahwa wahyu dalam Islam adalah Tanzil (penurunan dari atas ke bawah), bukan hasil evolusi spiritual manusia. Mengurangi wahyu kepada pengalaman manusia adalah pembalikan epistemologis yang fatal.
Apresiasi yang Diimbangi Kewaspadaan.
Perlu dicatat bahwa banyak cendekiawan Muslim kontemporer seperti Profesor Tariq Ramadan atau Dr. Ingrid Mattson mengapresiasi upaya Armstrong dalam:
- Mengurangi stereotip tentang Islam di Barat
- Menunjukkan kompleksitas tradisi ketuhanan
- Mendorong dialog antaragama
Namun, mereka tetap menegaskan batas-batas penerimaan dari perspektif Islam. Buku Armstrong bermanfaat untuk memahami bagaimana manusia memahami Tuhan, tetapi tidak untuk memahami Tuhan sebagaimana Dia mengenal Diri-Nya sendiri.
Rekomendasi untuk Pembaca Muslim.
1. Baca dengan Filter Aqidah: Gunakan kerangka tauhid sebagai lensa kritis
2. Bedakan antara Deskripsi dan Preskripsi: Armstrong mendeskripsikan apa yang manusia percaya, bukan apa yang seharusnya mereka percayai
3. Lengkapi dengan Sumber Islam Otentik: Imbangi dengan karya ulama seperti Ibn Taymiyyah (Al-'Aqidah al-Wasitiyyah), Al-Ghazali (Ihya' 'Ulum al-Din), atau kontemporer seperti Syekh Wahbah al-Zuhayli tentang aqidah Islam.
Kesimpulan Kritis.
Kritik utama terhadap Armstrong bukan pada fakta-fakta sejarah yang dikumpulkan, tetapi pada kerangka filosofis yang mendasarinya yang berasal dari tradisi akademis Barat post-modern yang cenderung:
- Merelatifkan kebenaran agama.
- Mengurangi transendensi kepada imanensi.
- Mengutamakan kesatuan pengalaman atas kebenaran doktrinal.
Bagi Muslim, buku ini berfungsi sebagai cermin bagaimana orang lain melihat rumah kita, bukan sebagai peta untuk menemukan jalan ke rumah itu sendiri. Kebenaran tentang Allah sudah final dalam Al-Qur'an dan Sunnah, dan tugas kita adalah memahami, mengamalkan, dan menyampaikannya, bukan menelusuri evolusi konsep-Nya dalam sejarah manusia. Wallaahu A'lam bi Shawab.
Muhammad Syarif Hidayatullah
Mahasiswa Doktoral Ilmu Agama Islam
Universitas Muhammadiyah Malang.
Komentar
Posting Komentar